Random Posts

randomposts

Sosok K.H. Maruf Amin: Rais Aam PBNU

maruf aminTulisan Hamid Basyaib tahun 2006, tentang pertemuannya dengan K.H. Maruf Amin yang tahun ini menjadi Rois ‘Aam PBNU menggantikan Gus Mus yang mundur seusai terpilih. Mereka berbeda pendapat dan bisa membicarakannya dengan santai dan guyon.

Menurut Martin van Bruinessen, mengomentari tulisan Hamid Basyaiban yang berjudul "Ketemu Maruf Amin" ini, "Saya sangat setuju dengan Hamid. Kiai ini, karena cerdas dan punya keahlian fiqih dan ushul yang canggih, bisa bisa diajak berkomunikasi dengan orang yang punya visi berbeda. Sangat mungkin suaranya di Syuriah NU akan berbeda dengan suaranya yang konservatif selaku ketua dewan fatwa MUI."

 

Oleh: Hamid Basyaib

Seusai berdebat tentang Perda Syariah di SCTV, di studio Graha Pena Jawa Pos Grup, saya berbincang ringan dengan KH Ma’ruf Amin, yang dalam acara itu mewakili Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dia masih seperti sepuluhan tahun lalu, ketika kami menghadiri syukuran pembukaan kantor cabang Jakarta perusahaan milik sahabatnya, yang juga sahabat saya.

Fisik Pak Ma’ruf tampak mengecil. Ubannya pun makin banyak. Pecinya masih agak miring ke kanan, tapi keceriaan dan humornya sesegar dulu. Kesabaran dan kesantunannya dalam berdebat pun tak berubah.

Saya menanyakan salah satu dari 11 fatwa MUI tahun lalu tentang larangan lelaki muslim menikah dengan perempuan nonmuslim. Bukankah, tanya saya, yang secara harfiah tercantum dalam Alquran adalah sebaliknya, yaitu larangan muslimah menikah dengan pria nonmuslim?

Maruf Amin

Pak Ma’ruf bilang, selain Quran, pendapat para ulama besar masa silam juga bisa dijadikan rujukan hukum. Dalam hal ini mereka berpendapat demikian, setelah menimbang bahwa situasi dan kondisi Ahli Kitab di masa belakangan berbeda dengan situasi mereka di masa awal, ketika wahyu diturunkan.

Qiyasnya adalah makan daging sembelihan Ahli Kitab, yang menurut Quran dibolehkan, tapi kemudian para ulama mengharamkannya.

“Dan juga,” tambah Pak Ma’ruf sambil terkekeh, “kalau syarat-syaratnya tidak terpenuhi, jangankan sembelihan Ahli Kitab, daging suguhan umat Islam pun bisa haram”. Ia menunjang pendapatnya dengan pelbagai istilah teknis fikih.

Kenapa MUI mengharamkan liberalisme? Dia balik bertanya, “Lho, siapa yang mengharamkan? MUI berpendapat, liberalisme itu tidak sesuai dengan Islam, tapi tidak diharamkan. Yang diharamkan adalah mengikutinya”. Ia kembali terkekeh-kekeh, sambil menganjurkan saya agar lebih cermat membaca fatwa MUI itu.

Saya juga tanya, mengapa dia dan MUI tidak cukup menganggap agama sebagai nilai-nilai, khususnya dalam urusan publik, dan bukankah yang penting tujuan syariah tercapai, tanpa harus menerapkan hukum-hukum positif yang diturunkan langsung dari ajaran Islam. Bagi Pak Ma’ruf, maqasid as syariah itu memang bagus dan tentu ia setujui.

Tapi hal itu, istilah dia, “belum bunyi”, sebab ia hanya tujuan; justru perangkat-perangkat hukumnya harus dirumuskan dan dijalankan agar tujuan itu tercapai. “Karena itu saya menempatkan nilai-nilai itu lebih rendah kedudukannya di bawah hukum – di situlah bedanya saya dengan JIL”. Pak Ma’ruf kembali terkekeh-kekeh.

Tapi dia menekankan: jika kesepakatan pendapat belum tercapai (baik di kalangan para ulama maupun masyarakat yang akan terkena hukum itu), sebaik apapun suatu ajaran, ia harus ditunda, tidak boleh dipaksakan. “Kuncinya adalah kesepakatan”, katanya.

Menjelang kami berpisah, saya bilang bahwa kita memang berbeda dalam banyak hal. Tapi yang penting, tolonglah MUI jangan galak-galak…“Tidak galak,kok,” timpalnya. “Semua kan terkontrol. MUI ingin jadi tenda besar bagi umat Islam. Semua orang boleh masuk, tapi tentunya harus sesuai dengan koridor-koridor tertentu”.

Saya bilang, masalahnya adalah: yang membuat koridor-koridor itu adalah Pak Ma’ruf, sehingga lama-lama tenda itu makin kecil saja – terlalu banyak kelompok Islam yang tidak bisa menikmati kehangatan tenda itu. Dia terbahak-bahak.

rais am pbnu

Sambil menunggu kedatangan mobilnya di luar, kami sempat melanjutkan gurauan. Menyinggung seorang ketua partai yang dikeluhkan pembawa acara dialog soal Perda Syariah itu bahwa dia membatalkan kedatangan di saat-saat terakhir menjelang acara berlangsung, Pak Ma’ruf mengomentari bahwa begitulah politisi. Semua dihitung-hitung untung-ruginya. “Kalau ulama”, tambahnya, “jalannya lurus saja, tidak ada pertimbangan-pertimbangan untung-rugi”.

Kemudian dia kembali merujuk episode dialog kami barusan di layar televisi, ketika dia “mengunci” pendapat penyanggahnya justru dengan bertolak dari pendapat si penyanggah.

“Dia kan bilang sendiri bahwa dia setuju Perda Syariah,” ujar Pak Ma’ruf. “Yang dia tidak setuju adalah isinya. Jadi saya kunci dia, crekk-crekk,” katanya sambil terkekeh-kekeh dan menirukan gerak orang mengunci pintu “Yang penting: dia setuju dengan Perda Syariah, isinya bisa kita bicarakan.”

Dengan kecerdikannya itu, saya bilang, berarti Pak Ma’ruf bukan cuma ulama, tapi juga politisi. Dia terpingkal-pingkal – dan kami berpisah dalam suasana riang seperti itu.

Begitu banyak yang tidak saya setujui dalam pendapat-pendapat Pak Ma’ruf Amin, seorang fakih yang sepenuhnya berpikir dalam kerangka fikih klasik dan sangat banyak bersandar pada opini fukaha terdahulu.

Tapi begitu menyenangkan berbincang dengan superstar fikih yang bergaya hidup sangat sederhana itu. Dia tidak asal bicara. Dia selalu mampu memaparkan argumen dengan runtut, artikulatif, sabar, santun, bahkan dengan sikap sangat santai.

Dia memahami munculnya “perda syariah” di berbagai daerah sebagai ekspresi kehendak masyarakat di daerah bersangkutan. Inilah yang antara lain ia maksud dengan “kesepakatan” itu.

Jika kesepekatan tidak tercapai, katanya, tentu tidak mungkin perda serupa bisa terjadi dan bisa diterapkan. Dan sepanjang kesepakatan tersebut tidak bertentangan dengan Konstitusi atau hukum yang lebih tinggi di negeri ini, perda syariah tentunya sah dan boleh diterapkan.

Apalagi banyak di antaranya yang merupakan ikhtiar untuk memecahkan problem-problem sosial, yang merupakan keprihatinan bersama semua warga negara. Jika syarat-syarat semacam itu tidak terpenuhi, ketentuan-ketentuan itu berhenti sebagai nilai-nilai, yang tidak boleh dipaksakan penerapannya sebagai hukum positif.

Betapa sulit saya memahami penyandaran Pak Ma’ruf Amin yang terlalu besar pada pendapat para ulama silam untuk menghadapi masalah-masalah mutakhir. Sungguh tak mudah mengikuti jalan berpikirnya, yang menempatkan hukum Islam (fikih) di tempat tertinggi, dan nilai-nilai Islam justru di peringkat terendah.

Bagi saya, jika kita sepakat dengan nilai-nilai tertentu, maka pewujudan nilai-nilai itu bisa dicapai dengan banyak cara, tidak harus dengan fikih, meski khazanah fikih boleh saja menjadi salah satu peserta aktif dalam keperluan tersebut.

Profil KH Ma'ruf AminJika cara-cara dari sumber-sumber lain ternyata lebih mampu mewujudkan nilai-nilai yang disepakati sebagai keluhuran itu, sebagaimana misalnya telah terbukti di masyarakat-masyarakat lain, tentu kita boleh, bahkan harus, memilih cara-cara itu. Apalagi kalau kita sadari, seperti sudah sering terbukti, bahwa kekakuan berpegang pada formalisme legal sering justru menghancurkan nilai-nilai yang ingin diwujudkan.

Watak nilai-nilai agama itu pun berbeda-beda. Barangkali ada yang perlu dirumuskan sebagai hukum positif, sambil menimba ilham bagi penjabarannya dari khazanah-khazanah kemanusiaan sejagat.

Ada pula yang hanya cukup dihayati sebagai pedoman batin, yang tidak perlu dibakukan menjadi hukum positif. Biarlah ia menjadi akhlak sosial yang dianut bersama, yang kesetiaan penerapannya diserahkan sepenuhnya pada kesadaran orang bersangkutan, dan koreksi terhadap pelanggarannya dilakukan oleh orang-orang lain dalam suatu mekanisme sosial (kerabat, tetangga, komunitas), bukan mekanisme hukum.

Dengan segala ketidaksetujuan saya pada opini-opini fikih Pak Maruf Amin, saya menikmati perbincangan dengannya, mendengar guyonannya, melihat bola matanya yang selalu berbinar dan jenaka, dan menyaksikan sikapnya yang santai dan sama sekali tak mengancam.

Mudah-mudahan semua pihak yang bergabung dalam “tenda besar umat Islam”-nya meneladani sikapnya: berbeda pendapat tanpa bermusuhan, memancang praanggapan yang rendah hati, menginsafi bahwa kebenaran adalah milik mutlak Tuhan, mengakui kemungkinan salah pendapat sendiri, dan kemungkinan bahwa pandangan orang lain mungkin lebih dekat pada kebenaran.

Dengan begitu, tenda yang sedang dibangun itu bisa benar-benar lapang. Kalaupun ada calon tamu yang terpaksa harus tinggal di luarnya, setidak-tidaknya mereka merasa bahwa tidak ada yang ganjil dan mengancam di dalam tenda itu.

Buta

ISISCeritakan padaku tentang ironi,” kata teman-teman, suatu sore, di komunitas Kafé Literasi.

Maka, saya pun bercerita tentang satu hal yang paling ironi.

Saya akan bercerita hal paling ironi. Cerita lama yang terus berulang: menyandingkan Tuhan dengan kekejaman: pemenggalan dan pencabutan nyawa,” jawabku.

Mereka melotot. Aku meminum cairan cokelat, kopi-susu, dan menelan beberapa biji kuaci.

”Bagaimana ceritanya?” salah seorang kawan tak sabar, merobek suasana tenggelam dalam diam.

”Begini ceritanya,” kataku tak langsung melanjutkan. Kunyalakan sebatang rokok, mendorong asap maut ke dalam paru-paru. Aku termasuk segelintir dari milyaran manusia goblok yang setiap detik memanggil-manggil Izrail agar segera melemparku ke dasar neraka. Merokok!!!

Kumulai ceirtaku:

Di dalam kereta saat menuju kampus, aku duduk berhadapan wajah dengan bunga-bunga musim yang sedang mekar dan, di sampingnya, seekor kupu-kupu liar. Rambut keduanya terurai, menjuntai ke bawah, diterpa angin dari lobang jendela. Dari leher sampai mata kaki, tubuh mereka terlilit kain ketat. Seakan kedua gadis itu sedang berlomba menonjolkan bagian-bagian yang—tanpa ditonjolkan pun sudah—menonjol.

Senyum meloncat dari dua bibir manis, menyela pembicaraan yang tak kusangka-sangka: ISIS!

Bukti apalagi yang masih kau ingkari,” kata gadis pertama. ”Justru Islam bisa maju gemilang, pernah jadi kiblat peradaban dan teknologi di bawah bendera ke-khalifahan Islam. Bukan demokrasi,” kata mawar.

Yah, perjuangan mengembalikan persatuan ummat Islam dalam satu kekhalifahan memerlukan pengorbanan dan komitmen,” melati menimpali.

Untuk itu, kita perlu siasat seperti Mu’awiyah. Kita perlu ketegasan seperti al-Hajjaj Ibn Yusuf, sang panglima, yang selalu bertindak cepat dan tegas, mutlak diperlukan. Semua itu, demi mewujudkan tujuan bersama: persatuan umat Islam. Mengembalikan kejayaan yang sudah lama hilang. Khalifah Mu’awiyah, bagi saya, sang pelopor dalam tradisi politik Islam yang menyatukan semua bangsa dalam satu sistem pemerintahan. Tak hanya Arab,” si pria menyala-nyala.

”Terus?” Teman-teman Kafe Literasi bertanya.

Saya muntab mendengarnya. Gadis-gadis negeri ini, ternyata seperti barang elektronik produk cinta: casing okey ’daleman’ memble. Lihat saja, dua dua bunga itu: pakian seksi ala gadis eropa tapi isi kepala jahiliyah,” jawabku.

Kuteteskan sepercik cairan cokelat kehitaman kembali ke dalam tenggorokan, juga memberikan kesempatan asap-asap maut menari-nari girang mengundang kematian, lalu kuhempaskan dari mulut, mengotori kesehatan paru-paru dan anggota-anggota vital.

***

Siapa sangka, gadis-gadis modis terbuai rayuan manis ISIS, menumbangkan nyawa demi berdirinya negara-agama. Oh. My dog!!!

Bila yang berbicara seperti itu wanita-wanita bercadar, mungkin itu tidak aneh. Toh, negara ini termasuk salah satu pemasok wanita-wanita pejuang ranjang di Syiria. Ini ironi lain.

”Kenapa mereka menjadikan Mu’awiyah sebagai cantolan?” tanyaku. Aku tak perlu jawaban mereka. ”Mungkin, ini hipotesaku saja, keduanya sama-sama penyanding tuhan dengan kekejaman demi kekuasaan,” lanjutku.

Saya teringat pidato gila sang khalifah,

”Semua yang terjadi di muka bumi adalah ketetapan ilahi. Takdir! Adalah wajib mengimaninya. Mengingkarinya berbuah bara neraka, mengingkari takdir berarti kafir.”

Terus terang, saya begidik ketika membaca pidato kenegaraan pertama mantan gubernur Syam orde Uthman Ibn Affan itu, setelah pelantikkannya sebagai khalifah pertama bani Umayyah, di suatu hari yang tercatat tinta hitam sejarah dengan nama Yaum al-Jam'i.

Pidato yang jadi legitimasi, semenjak dinasti monarkhi itu berkuasa, manusia-manusia bengah menyerobot tugas Izrail, untuk melanggengkan kekuasaan. Apalagi setelah dinasti-monarkhi ini secara resmi menetapkan faham fatalisme sebagai mazhab resmi negara. Lengkap sudah menyandingkan agama dengan kekejaman demi kekuasaan. Satu fase abu-abu yang tak ada sejak nabi sampai habisnya era Khulafa al-Rashidin.

Makin ngeri bila kita mendengar syair berdarah--jauh lebih becek warna merah dari tangan maut Arya Dwi Pangga-- Al-Hajjaj bin Yusuf,

 

Aku seorang petinggi dan pencongkel gigi

….

Sejak berkuasa, dinasti yang semenjak jadi gubernur terkenal suka berpoya-poya ini mulai menghunus pedang di depan oposisinya, faksi Madinah. Karena telat untuk mem-bai’at, selaih peristiwa Karbala yang menyimpan duka sepanjang masa: pemenggalan cucu nabi di padang Karbala. Bagi mereka, menenteng pedang di jalan Tuhan.

Peristiwa demi pembunuhan terjadi di masa kekuasaan orde Bani Umawiyyah ini.

Bahkan, Yazid Ibn Mu'awiyah, putra mahkota yang memimpin eksekusi cucu nabi di Karbala, saat peristiwa paregreg di Madinah, berkata tanpa merasa berdosa, ”Bila kakekku, Abu Sufyan, melihat kesuksesanku ini, saya yakin ia akan bangga,” ujarnya setelah membereskan pembangkang Madinah.

Saya su’udzon sebenarnya tujuan Mu’awiyah membangun negara dengan menggusur Ali karramaLlahu wajhah terlebih dahulu itu melanjutkan ambisi keluarga atau murni menancapkan panji agama? Atau dengan kata lain: menancapkan taring keluarga dengan berteduh di bawah bayang-bayang bendera agama?

Entahlah! Saya tak lagi berkutat dengan lembaran sejarah. Dan, lagi pula, hati manusia hanya pemiliknya dan Pencipta yang tahu.

Terus apa kaitannya dengan obrolan dua gadis itu,” tanya teman-teman serentak.

Sesuatu yang dimulai dengan darah, akan diikuti warna yang sama. Dan, miris, ditumbangkan dengan cara yang tak berbeda,” pungkasku sambil menghabiskan sisa kopi.

Teman yang lain menyela, mengisi ruang kosong sementara menikmati cairan cokelat,

Tapi banyak yang menganggap mendirikan negara-agama, daulah islamiyyah, dengan mem-bai’at khalifah, adalah bagian dari perintah Tuhan.

”Maka,” lanjutku setelah meletakkan kembali kopi tampat semula, ”Kemana dan dimana pun, kita harus tertap ber-Jas Merah: Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Itu pesan Bung Karno yang menemukan relevansinya. Dua gadis itu, representasi dari generasi buta sejarah. Ahistoris! Bila tahu sejarah kelam Mua’awiyah, mereka, saya yakin, akan malu melegitimasi kesahihan Islamic State in Iraq and Sham dengan kekuasaan dinasti ini. Saya malas untuk turut latah menarik Ayat-ayat suci dan hadith nabi di sini, tidak perlu. Toh sudah jelas ISIS tak ada cantolannya dari segi mana pun.”

Diam.

Ngopi.

”Bagaiman kelanjutannya?”

”Selesai,” jawabku.

 

** Terinspirasi dari obrolan penumpang di dalam Metro dari Tunis ke Manouba di suatu senja.

Ora et Labora

"Kang Afandie, tirakatku dulu adalah membaca buku. Riyadlah (mengolah kebatinan) saya dulu tidak dengan puasa Senen dan Kamis," tutur kiai sepuh pada salah satu santrinya; Setelah si santri menjalankan amanatnya sebagai "badal" mengisi pengajian di desa sebelah, menggantikan sang kiai yang berhalangan hadir.
Kiai sepuh itu adalah K.H. Fattah Hasyim Idris, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang. Beliau memang sering menitahkan santri asal Indramayu tersebut untuk menggantikannya mengisi wejangan di atas podium, bila sedang berhalangan, selain menjadi imam di masjid dan mengaji 'belandongan' (sistem pengajian klasik di Pesantren: kiai/ guru membaca, murid mencatat. Semacam kuliah dosen di kelas).
Nasihat itu menarik kita resapi.
Tradisi tirakat di dunia pesantren sudah mengakar rumput. Rasanya tidak "afdlal" jadi santri bila tidak mengolah batin dengan menjauhi segala aroma dan warna duniawi, makan sederhana, puasa, bahkan ngerowot (biasanya makan 'nasi' jagung, atau tiwul, dan jenis makanan tak bergizi yanh lain).
Konon, diantara faidahnya, "padange" hati. Sehingga, siapa yang melakukan tirakat bisa lebih mudah menyerap setiap inti pelajaran, ilmu jadi barokah, dll. Minimalnya, qana'ah. Ah, saya kok jadi penceramah dunia eksotis gini.
Masih menurut katanya, masih banyak lagi keistimewaan yang bisa diperoleh secara ajaib dengan lakon batin seperti itu. Tak tahulah. Saya bukan penganut aliran "keistimewaan". Yang riil-riil saja banyak yang belum tergapai.
Namun, hal itu tidak berlaku bagi kiai Fattah. Bagi beliau tirakat santri adalah belajar serius, lakon tirakat sebatas pengimbang. Santri haurs gigih berusaha sambil diimbangi ketulusan berdoa.
"Banyak yang puasa tapi jadi lemes. Tidak 'berdaya' untuk membaca. Maka, lebih baik giat belajar, dari pada tirakat tapi belajar tidak semangat. Lain halnya, bila tirakat tidak mempengaruhi kesungguhan belajar," lanjut penerus tongkat estafet kepemimpinan Pesantren Bahrul Ulum tersebut, setelah panutannya, mBah Wahab Chasbullah, dipanggil Yang Maha Pencipta, pada santri kepercayaannya.
Dalam teori pragmatik, bila kita mau berbicara sedikit teoritis, utamanya kajian tindak tutur (speech act), ucapan mBah Fattah tergolong dalam jenis tutur illokusi (illocution act; al-'amal al-qauli), yaitu ada maksud yang ingin ia sampaikan pada mukhatab/mitra tuturnya (dalam hal ini adalah Afanfie muda), dibalik tuturannya tersebut. Dan itu bisa bermacam-macam: larangan, nasihat, perintah, dll. Semua bisa terkuak dengan menempatkan tuturan tersebut pada konteksnya: siapa penuturnya, kepada siapa ia bertutur, kapan dan dalam situasi apa mBah Fattah bertutur.
Kita kembali ke cerita di atas agar mengetahui maksud tuturan mBah Fattah.
Santri yang saya sebutkan di atas adalah abah saya sendiri. Sehingga saya mengetahui lebih jauh kelanjutan dan tujuan "dawuh" kiai yang tidak pernah saya lewatkan dalam setiap tawasul saya, sesuai pesan abah.
Abah sering menggetok tularkan nasihat kiainya dengan hadith riwayat bi al-makna, "Maka, jika puasa justru membuatmu tak bergairah membaca, belajar, ya mending kamu makan yang cukup. Tetapi, tetap bisa fokus belajar," nasihat abah padaku.
Tapi, lanjut ayah paling hebat di dunia (boleh dong ngebanggain ortu sendiri), semua harus diimbangi dengan doa. Terutama doa orang tua. "Tirakat tidak usah macam-macam, dua itu saja," lanjut guru nomor satuku. Nasihat yang tak akan pernah kulupakan.
Bahkan, abah pun sering meriwayatkan hadith lain, keluar sebentar dari fokus pembicaraan ini, riwayat yang sanadnya diperoleh saat mondok di Tebuireng, "Saat sedang menemukan kemusykilan, baik fikih maupun yang lain, mBah Cholil Bangkalan sering mengajak ibu nyai "jalan-jalan" keliling Bangkalan (entah tepatnya tempat apa yang beliau kunjungi, abah tak menyebutkan), naik dokar."
Abah melanjutkan, konon, saat "jalan-jalan" itulah Shaikun-nahdliyyin, Mbah Cholil, (ini istilah bidah ala saya, sebagai term vis a vis menyaingi shaikh al-islam yang disematkan ke Ibnu Taymiyah. Dilarang protes!!! Ini hak prerogatif saya untuk mengangkat kapolri, eh salah: istilah baru) menemukan solusi masalah yang tak ditemukan di ruang baca. Jika sudah menemukan pemecahan, maka beliau segera memerintahkan supir pribadinya untuk memutar balik ferrari kembali ke "ndalem" (mobil ferrrari kan logonya kuda smile emoticon ).
Jadi, wahai saudara-saudara sependeritaan dan sekemeringisan, tirakat yang paling ampuh itu makan buku, bukan nasi jagung dan tiwul. Mbah Hasyim, Mbah Fatah, mBah Wahab, mBah Manab, meskipun melalui lakon panjang kurang makan, tetapi jangan lupa mereka tidak pernah lelah mengeja aksara. Itu kontribusi terbesar bagi kesuksesan mereka? Bahkan, syahdan, mBah Manab --pendiri pesantren Lirboyo-- setiap habis mencuci pakaiannya, "tiyang agung" itu sambil menunggu kering dengan "ngelalar" (mengulang-ulang hafalan) bait-bait al-Fiyah Ibn Malik. Tidak tanggung2 di dalam kolam. Sebab, tidak punya ganti. Dahsyatullah sekali.
Shahih atau dhaifnya riwayat tersebut, waLlahu maha tahu.
Tanya juga--mumpung masih hidup-- pada mBah Chomsky (pendiri linguistik aliran transformatik-generatif), mBah Fauconnier (penemu toeri ruang mental [espaces mentaux] dalam domain kajian semantik kognitif, dan mBah Jackondoff (salah seorang tokoh semantik kognitif Amrik, murid mBah Chomsky), apakah mereka pernah ngerowot maka tiwul dan/ atau nasi jagung?
Pop corn, mungkin pernah. Mereka kutu buku dalam perbagai rumpun keilmuan.
Maka, sekali lagi, tirakat santri hanya dua: mempeng lan ndonga, buku dan sajadah. Atau istilah keren temen ngopiku: ora et labora. Keduanya ada di ruang sunyi. Dan, sesekali jalan-jalan. Ini "tarekat" mBah Cholil.
Eh, tapi jangan bilang siapa-siapa ya, saya belum bisa meniru tarekat "tongkat pusaka Islam nusantara" itu seutuhnya. Beliau jalan-jalan didampingi ibu nyai Cholil, maka malaikat pun turun membawa "wahyu" sebagai jalan keluar atas kemusykilan. Persis seperti ketika membimbing nabi saat sedang galau menghadapi umatnya yang ngeyel.
Jadi, sodara-sodara, sehabis ujian, kita akan bertemu jibril di bukit mana? Atau di pantai mana? Jalan-jalan.
Tapi sayang, kayaknya Jibril tidak mau berpihak pada para jomblo. Setiap saya jalan-jalan-- dengan sesama "bantongan"-- ku berharap sesekali ia turun membawa bisikan langit padaku, yang datang malah tukang foto.
Rupanya malaikat tak berpihak pada jomblo-jomblo. Jalan keluar jomblo ternyata masih di dalam sekat ruang baca, dan yang mau pintas berteman dengan google.
Jika ini benar, wah wah, malaikat tidak adil. Tapi saya protes pada siapa, lah wong saya tidak punya PIN BBM atau WA, dan akun medsosnya Jibril atau malaikat yang lain.
Entahlah bila saya sudah meminang penerjemah pribadiku untuk buku-buku Syaikh Chomsky, Kiai Fauconnier, Gus Jackondoff, Cak Austin, dan Kang Searle. Juga buku-buku dengan bahasa alam gaib yang lain, tentunya. Mungkin, sekali lagi kemungkinan, Jibril mau jadi teman baikku.
إلى حضرة شيخنا خليل، والشيخ هاشم، والشيخ عبد الوهاب، والشيخ عبد الفتاح، والشيخ عبد الكريم والشيخ عبد مرزوقي والشيخ محروس علي وجميع أجدادي وجداتي لهم الفاتحة
A. Muntaha Afandie
Tunis, 02 Maret 2015
Maktabah watoniyah, ngopi siang, 12:58

الانتخابة العامة للجمعية التونسية للتربية والثقافة

[caption id="attachment_1039" align="alignright" width="300"]association-tunisienne-pour-l'education-et-la-culture الصورة مع بعض هيئة الجمعية التونسية للتربية والثقافة[/caption]

واقترحت فكرة لامكانية التعاون بين الجمعية التونسية للتربية والثقافة واتحاد الطلبة الأندونيسيين بتونس في الأنشطة الثقافية. وذلك لتحقيق الانفتاح على المختلف منأجل ترسيخ التعددية الثقافية وطنيا وعالميا، مع الانفتاح على العالم بمختلف ثقافته ولغاته (كواحد من أهداف الجمعية).


حضرت يوم الخميس (09/04/2015) جلسة الانتخابية العامة للجمعية التونسية للتربية والثقافة،  كالضيف، على الساعة الثانية بعد الزوال بقاعة الفنون التشكيلية بالمركز الثقافي والرياضي بالمنزة السادس؛ وهي الجلسة الأولى منذ تأسيسها يوم الاثنين 09 أبريل 2012 بالمركز العمراني الشمالي تونس 1082.


حضوري في هذه الانتخابات كالضيف فحسب، ولست من أعضاء تلك الجمعية. وحضر أيضا بعض الطلبة الألمانية.


كتب السيد رضا الكشتبان، رئيس الجمعية وإحدى مؤسسيها، على صفحته الرسمية على الفيس بوك بأن الهيئة الجديدة تتكون: 4 من الهيئة التأسيسيّة و9 جدد أصغر الأعضاء 21 سنة / أكبرهم 65 سنة6  من الإناث مع 7 من الذكور.


وعندما ألقى كلمة افتتاح، عرض الأستاذ رضا الكشتبان للأنشطة والإنجازات التي عمِلت الجمعية على تحقيقها على مدى ثلاثة سنوات منذ تأسيسها إلى حد الآن. ومن الأنشط التي عملت على تحقيقها هي: حفلات موسيقية وعروض مسرحية وورشات فنية وجلسات تكريم أدباء وفنانين.




[caption id="" align="alignleft" width="334"] الصورة مع رفقة الأخت ناريمان دخيل وأختها، وهي من الهيئة الجديدة للجمعية، ولها مساهمة بخبرتها الواسعة في العمل الجمعياتي المُكتسبة على مدى سنين[/caption]

الصورة مع رفقة الأخت الغالية: ناريمان دخيل من إحدى الهيئة الجديدة، تمثل من الشباب، وهي سفيرة شباب الفكر الإسلامي


ونظمت، أيضا، الجمعية الندوات والمداخلات والمعارض. ومن هذه الندوات الذي تم تنظيمها هي الندوة حول موقع العربية في الخريطة السياسية العالمية بقاعة المحاضرات بمدرسة ابن خلدون، أريانة، نظمتها الجمعية بمناسبة اليوم العالمي للغة العربية (28/ 12/ 2014)، وهي للمرة الأولى، بالنسبة لي شخصيا، مشاركتي في الأنشطة التي نظمتها الجمعية التونسية للتربية والثقافة. وهناك محاضرات ومداخلات أخرى لا يمكن لي أن أذكرها هنا تفصيلا.


وبعد إعلان الهيئة الجديدة لها، أخذتُ صور تذكارية مع جل الحاضرين، وخاصة الهيئة الجدد. ثم وزّع العديد من الكتب حول الحياة الثقافية و ماهية الثقافة العربية التي نشرتها الوزارة الثقافة للجمهورية التونسية.


خرجتُ من القاعة مع اعتقادي بأن هذه الجمعية ستتبلور في الساعات القادمة وتحقيق أهدافها، من أهمها : تعميق الوعي الثقافي والتاريخي وقيم التعايش والتسامح والاختلاف؛ وتحقيق الانفتاح على المختلف من أجل ترسيخ التعددية الثقافية وطنيا وعالميا، مع الانفتاح على العالم بمختلف ثقافته ولغاته.


واقترحت فكرة لامكانية التعاون بين الجمعية التونسية للتربية والثقافة واتحاد الطلبة الأندونيسيين بتونس في الأنشطة الثقافية. وذلك لتحقيق الانفتاح على المختلف من أجل ترسيخ التعددية الثقافية وطنيا وعالميا، مع الانفتاح على العالم بمختلف ثقافته ولغاته (كواحد من أهداف الجمعية).


Entahlah-Enyahlah

Serangan Museum Tunisia~ Korban Musee du Bardo

 

Entahlah,

Entah setan apa yang merupa jadi malaikat siapa

Binatang-binatang itu buas bringas mengganas tanpa welas

: merubah gedung penyimpang benda-benda bersejarah

untuk mengabadikan marah;

mengganti aneka bukti sejarah dari pelbagai peradaban

dengan anyir darah

menanam kebinatangan di bumi manusia

mengebiri substansi universal shariat

justru dengan sebuah ironi: atas nama shariat

!

Entahlah,

Setan apa yang merupa jadi malaikat siapa

?

Entahlah,

Setan yang begitu piawai atau mereka yang mudah lalai

: terpedaya dengan mudah

tempurung kepala dibelenggu hitam-pekat-legam

mereka anggap kebenaran tunggal-mutlak yang tak bisa digadaikan

selebihnya sampah yanh harus disingkirkan.

Entahlah.

En-tah-lah ....

Setan

Malaikat

Binatang

Atau jenis apa mereka

...........

Aku hanya bisa berkata: Enyahlah!!!!

 

Lac, Tunis, 19 Maret 2015. 02: 30 dini pagi.

Pengalaman dalam Metro: Digelandang Polisi Tunisia

Kereta Api ListrikPada suatu hari yang dingin, ada pemandangan lain di stasiun metro Bab Saadoun, Tunis, ibu kota Tunisia. Tiga orang asing dari tiga benua yang tak sama dikawal ketat oleh polisi, keluar dari Metro menuju ruang "pengadilan," kantor kepala stasiun.

Merkea adalah pria dari benua Eropa, Asia, dan Afrika. Ketiga pria itu jadi hujaman ratusan pandang mata warga Tunisia, tentunya. Polisi paling depan berlagak seperti aktor yang sedang memerankan penangkapan bandar narkoba kelas kakap dalam film-film Hollywood.

Siapa ketiga pria itu? Si bule adalah warga negara yang pernah dipimpin Napoleon, sedang si cokelat manis pemegang paspor Republik Pencitraan, Ngendonesia, dan yang pria ketiga adalah tetangga jauh negeri ini, Mouritania.

Stop!!! Jangan berimajinasi lebay, Dab. Mereka bukan jaringan terongis ngintelnasional. Justru mereka mahasiswa baik-baik( ce iyeee), yang dalam perjalanan (dari kampus) ke perpustakaan nasional: mengejar deadline tugas kelompok, makalah dan presentasi. Tapi mereka tidak memiliki tiket.

Rasain.

Kapok!

Tunggu dulu pemirsa. Cerita lengkapnya begini.

***


"Tiket-tiket. Tunjukkan tiket atau kartu berlangganan kalian," kata petugas.
Satu per satu tangan merogoh saku, menjulurkan yang mereka punya: tiket atau kartu langganan.
Sial. Pas sampai giliranku, ku rogoh sakuku, dompet tidak ada. Gebleg, rupanya tadi pagi saya lupa membawanya. Terburu-buru. Sial murokkab: setiap hari selalu ada di dalam kantong, tak pernah ada kontrol, giliran kelupaan, eh, laddalah, kok ya apes nasibku.

Sedangkan si bule memang tidak punya.

Hanya si hitam yang memenuhi kewajiban sebagai penumpang yang baik dan taat. Ia pantas untuk mendapatkan sertifikat penghargaan penumpang teladan. :-P
"Mana tiketmu," hardik petugas padaku.
"Sebentar saya cari. Saya berlangganan tiket paket mahasiswa selama satu tahun. Mungkin terselip di dalam kertas, dalam tasku. Sabar, pakbro," jawabku tanpa menoleh muka brengos itu.
Aku sibuk mencari-cari. Tak kunjung ku dapatkan yang kubutuhkan. Sial!
"Sudah berikan paspormu. Jangan buang waktu kami. Masih banyak yang harus kami periksa."
Kupret. Enak saja minta paspor. 600 millims tak seimbang dengan nyawa bagi setiap warga asing yang sedang menghirup udara tanah tetangga: paspor.
"Tidak. Kalau mau ini ambil iqamah (izin tinggal; KTP) saya. Lagian saya punya kartu langganan. Saya tidak melanggar. Ini iqamah, besok pagi saya ambil dengan membawa kartu langganan saya."
"Pokoknya paspor. Banyak bacot. Kamu punya kartu, tapi sekarang tertangkap basah tanpa tiket atau kartu. Itu dua hal yang berbeda. Singkatnya hari ini kamu melanggar. Harus bayar denda. Berikan paspor buat jaminan," hardik petugas kaya kirik. Mendelik.
Paspor atau bayar denda. Si bule mengeluarkan nominal setengah dinar. Saya bikin yang lebih mendramatisir lagu, separoh dari si bule.
"Lihat!!! Uang kami hanya segini. Bagaimana bisa menyerahkan nominal yang kau minta."
"Dan, KTP ini juga kan identitas saya yang sudah diakui negaramu. Membuatnya juga harus ada paspor dan berkas-berkas lain. Sederajat dengan Paspor."
"Sudah sini berikan," katanya. "Hai, bawa mereka bertiga ke kantor kepala," kata si bewok lagi pada polisi di depannya.
Si bule yang sudah pasrah karena ternyata ia tidak beli tiket dan tidak pula punya kartu langganan. Sedangkan si penumpang teladan memang tidak punya urusan. Namun, sebagai bentuk loyalitas, ia ikut pula bersama kami.
"Bener kamu tidak punya uang?" Kata polisi sambil menuju ruang kepala, mengajak "berdamai".
"Tenang," kata si hitam. "Saya sudah terbiasa menghadapi yang begini," lanjutnya ketika melihat saya hendak menyerah: menjulurkan nominal yang diminta.

***


Kepala stasiun sedang sibuk dengan kertas. Ia tersenyum ramah. Dia sudah tahu duduk-perkara tanpa perlu penjelasan petugas yang menggelandang kami: Ada apalagi orang dibawa ke kantor dia, jika bukan karena penumpang yang tidak berkarcis atau kartu langganan.
"Selamat datang di negeri kami," sambutnya. "Dari mana?"
"Indonesia," sambutku singkat. Sudah pasrah untuk tawar menawar.
"Oh..... Selamat datang. Negara muslim. Negara yang baik."
Sebelum polisi yang membawa kami membuka mulut. "Ada apa ini?" Lanjutnya sekadar pertanyaan penghargaan bagi petugas yang sudah melaksanakan kewajiban dengan baik. Tapi ia tak butuh jawaban.
"Berikan kartu dia. Dia tamu kita."
Begitu pula milik si bule.
Kami bertiga pun keluar. Kukedipkan mata tanda perpisahan pada si om yang mengawal kami.

Rupanya virus peraturan ditegakkan tak berlaku bagi orang asing pun berlaku di sini. Saya kira hanya ada di endounesia.

Kata orang bijak, belajarlah dari pengalaman. Maka, saban pagi, kartu keanggotaan metro jadi barang pertama yang ku cek. Baru yang lain. Pelajatan moral nomor 212 yang ku pegang agat tak lagi jadi tontonan. Malu, Dab, bila peristiwa tanggal 3/3 terulang kembali.

Channel Youtube Khusus Video Belajar Bahasa Arab GRATIS!!

Video Belajar Bahasa ArabAlhamduliLlah, akhirnya saya dapat membuat channel khusus Video Belajar Bahasa Arab Online GRATIS di Youtube.

Ini sebagai wujud usaha saya untuk berbagi ilmu yang saya miliki, meski hanya sedikit, tapi sudah iktikad saya untuk berbagi, mungkin bermanfaat bagi yang lain. Maka, dari itu saya berkomitmen untuk memberikan materi-materi bahasa Arab yang mudah dipahami oleh orang Indonesia yang nota bene-nya bukan penutur Bahasa Arab (baca: Pre-Launching Belajar Bahasa Arab Online: Cara Mudah untuk Orang Indonesia).

Namun, video asli rekaman saya baru ada satu. Sisanya, saya mencari-cari video yang saya anggap mudah untuk dipahami bagi pemula sekalipun.

Belajar Bahasa Arab cepat dan MudahInsyaAllah, kedepan saya akan terus meng-update materi-materi / pelajaran bahasa Arab mulai dari untuk pemula, dan semoga bisa terus istiqamah memberikan materi sampai tingkat mahir, bahkan mengarang dan menerjemahkan Bahasa Arab dengan mudah.

Namun, perlu digaris bawahi bahwa Bahasa Arab yang saya share di sini adalah bahasa Arab modern sehingga bagi yang sudah pernah ngaji bahasa suku quraisy klasik, akan mendapatkan beberapa perbedaan.

Oh ya, dalam memberikan materi-materi ini, saya asumsikan, pembeca blog saya sudah memahami tata-bahasa Indonesia. Jadi, saya gak akan mengulas istilah-istilah yang berkaitan dengan itu.

Dengan kata lain, Anda akan lebih mudah mengikuti Belajar Bahasa Arab online dengan saya via video ini bila Anda sudah memahami bahasa sendiri, Bahasa Indonesia.

Salam manis dari Tunis.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kolom Kebudayaan dan Peradaban - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger